Minggu, 06 Maret 2016

Kejadian lalu

Aku tahu bahwa disetiap hubungan ada pertengkaran. Baru kali ini aku merasakannya. Akan kuceritakan padamu bahwa aku bahagia sekali disampingmu. Dulu, di dekatmu saja jantungku seperti ingin melompat. Aku malu sekali saat kau menatap lama mataku. Aku memberanikan diri berpegangan di perutmu saat kau memboncengku. Aku mencium wangi parfum di jaketmu, membuatku ingin memelukmu.

Waktu itu aku menemanimu bermain futsal, kau begitu tampan saat bermain. Keringat membasahi kaus dan rambutmu. Kau selalu mengusap rambutmu ke belakang, supaya tidak menghalangi penglihatan saat kau bermain.

Kau menghampiriku setelah bermain, lalu aku menyodorkan sebotol minuman padamu. Kau meneguknya sampai habis. Mataku tidak berhenti melihat sikapmu. Aku merasa senang sekali.

Setelah menemanimu bermain futsal, kau mengantarkanku pulang. Aku begitu kaget kau memegang tangan kiriku yang berada di perutmu. Telapak tanganmu begitu hangat. Kepalaku menyender di punggungmu sambil menutup mataku. Aku tidak mimpi. Ini nyata.

Aku belum pernah sebahagia ini. Ini pertama kalinya aku menjalani hubungan dengan orang yang sangat aku cintai.

***

Kamis, 03 Maret 2016

 Naksir Sedarah


Yes ! Hari ini aku seneng banget. Soalnya aku akan liburan ke Singapura. Ini kedua kalinya, saat pertama kalinya aku masih kelas empat.Makanya aku seneng banget.
Aku udah nyiapin barang-barang yang pengen dibawa. Lumayan banyak. Beberapa setelan baju, perlengkapan mandi, perlengkapan kosmetik, yah dan beberapa barang cewe lainnya. Lalu aku memasukkannya ke dalam koper hitam yang agak besar. Sekeluarga mengikuti liburan ini. Semoga aja pas diperjalanan nanti diberi keselamatan. Amin.
Pesawat pun sudah melandas. Aku melihat pemandangan dari dalam pesawat ini. Bener-bener menakjubkan.

Kira-kira butuh waktu dua jam untuk sampai di suatu bandara di Singapura. Kami sudah sampai di bandara ini pas malam. Kami menunggu Tante Ria yang katanya mau jemput. Tapi ga ada dia disini. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi saja.
Tapi ga berapa lama, aku melihat Om Deddy, suaminya Tante Ria, Om Mason dan Grandpa nyamperin kita. Aku tidak bertemu mereka selama 9 tahun. Tidak banyak yang berubah dari mereka.Mereka kaget saat melihat aku sudah sebesar ini, sudah remaja. Om Deddy, Om Mason sama Grandpa langsung berbasa-basi dengan kami. Terus Om Deddy sama Grandpa bawain barang-barang kami sampai ke sebuah parkiran. Sedangkan Om Mason daritadi main gadget nya aja, bukannya ngebantuin.
Aku melihat Tante Ria sama anaknya Jim yang masih berumur tiga tahun itu. Mereka memakai jaket yang tebel banget saat Om Deddy membuka pintu mobil Mitsubishinya. Perasaan disini ga begitu dingin. Aku dipeluk sama Tante Ria saking kangennya, dan aku mencium pipi Jim sampe dia kesenengan.
Aku, papah, mama, dan kedua adikku Michael dan Adel naik ke mobil Mitsubishinya Om Deddy sama Tante Ria dan Jim. Sementara Grandpa naik mobil Toyotanya Om Mason.
Kami sudah sampai di rumah Grandma. Aku dikasih cium pipi sama Grandma dan istrinya Om Mason sekaligus tanteku, Tante Christine. Kita masuk ke dalem sementara Tante Ria, Om Deddy dan Jim pamit pulang.
Kita sampe dirumah Grandma jam 9an. Kami istirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol. Setelah itu, kami bersiap-siap untuk tidur.
Jam 5 pagi. Aku terbangun dari tidurku. Aku melihat ke kamar yang lain yang tidak jauh dari kamar yang aku tiduri bersama Adel. Ternyata, mereka sudah tidak ada di kamar kecuali Justin, anaknya Om Mason dan Tante Christine yang masih tertidur lelap.
Ternyata mereka semua sudah bersiap di meja makan. Mereka semua menunggu sarapan yang masih dimasak oleh Grandma, Mama, dan Tante Christine. Papa melihatku yang masih mengenakan baju tidur, ia langsung memerintahkanku untuk mandi dan ikut sarapan bersama.
Malam ini, aku melihat bintang di langit. Aku benar-benar bingung mau ngapain. Aku melihat Mama sedang mengobrol dengan teman sdnya dulu.
Papa mengagetkanku saat aku sedang melihat bintang. Aku terkejut dan cemberut padanya.

"Elena, kamu ngapain disini?" goda Papa.
"Ngeliat bintang, Pa." aku menghela nafas.
"Kamu bosen ya disini?" khawatir Papa.
Aku menoleh ke arah Papa lalu menggangguk.
"Tenang ya sayang, besok Papa akan ngasih surprise ke kamu." Papa mengacak rambutku lalu meninggalkanku.
Aku hanya bengong dan penasaran soal kejutan buat besok.
***
Aku masih menunggu surprise yang dibilang Papa. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Grandma dan Papa membukanya. Papa terlihat senang sekali saat bertemu orang itu. Aku penasaran dan ingin menghampirinya, tetapi Papa sudah menunjukkan tiga orang itu padaku.
Aku kaget saat melihat mereka bertiga. Hatiku senang dan terharu. Aku langsung memeluknya. Ternyata dia masih ingat padaku. Mereka itu adalah teman masa kecilku. Sarah, Debby, dan Mika.
"Gimana, sekarang kamu masih bosen?" Papa meledekku.
"Engga Pa. Thanks Pa." aku memeluknya saking senangnya.
"No problem."
"Yaudah Pa, kita mau main dulu. Mungkin nanti pulang malem." kataku yang langsung dijawab dengan anggukan dan senyuman Papa.
***
Hari ini aku puas sekali bermain dengan teman masa kecilku. Hal yang sangat kurindukan. Kalo main sama mereka, ampe ga keinget waktu. Aku bermain dengan mereka sampai malam. Aku harus pulang karena aku sudah janji dengan Papa.
"Ayo, pulang. Udah malem. Nanti Papa malah nyariin kita." ajakku.
"Mmm, sorry Elena, kamu pulang sendiri aja ya, kita bertiga mau ke rumah Adik Grandma dulu." kata Sarah yang langsung menunjuk rumah Adik Grandma yang ga jauh dari rumah Grandma.
"Yaudah, hati-hati ya." kataku sambil dadah-dadah.
Aku berjalan menuju rumah Grandma. Aku melihat sebuah motor yang terparkir di depan rumah Grandma. Kira-kira siapa ya? Aku masuk ke rumah Grandma lalu aku masuk ke kamar.
Pas aku masuk, ada dua orang cowo yang lagi tidur dikamar yang aku tempati. Ini siapa ya? Sejenak aku teringat motor yang didepan rumah Grandma. Mungkin itu punya mereka. Karena aku penasaran, aku nanya aja sama sepupuku Zinsky yang lagi nonton tivi.
"Zinsky, itu yang lagi tidur siapa?" tanyaku sambil menunjuk ke kamar.
"Oh, itu Kak Ray sama Kak Louis." Zinsky menoleh lalu kembali ke layar kaca televisinya.
Kak Ray sama Kak Louis? Kok kayanya aku pernah denger nama mereka? Siapa ya? Setelah lama berfikir, akhirnya aku inget kalo mereka itu temen mainku pas aku masih kecil. Sama kaya Sarah, Debby, dan Mika.

 Bener-bener ga nyangka banget bisa ketemu mereka. Udah 9 tahun aku ga ketemu mereka. Makasih Ya Tuhan.. Tapi apa mereka masih inget aku?
Aku paling inget sama Louis doang. Aku sama Louis sepantaran. Kalo kakaknya si Ray udah kerja. Kulihat Kak Ray sama Louis udah bangun. Aku ngeliat mereka aneh. Mereka udah pada beda banget fisiknya. Aku mengira-ngira sosok Louis. Yang mana yang Louis ya? Yang satu berbadan pendek yang satunya lagi berbadan tinggi. Biasanya nih, yang muda itu badannya pendek. Mungkin itu Louis. Mana model rambutnya alay banget, poni panjang ke samping. Aku sempet naksir sama Ka Ray soalnya cakep dan tingginya ga nahan. Tapi sayang sih udah kerja. Aku ga suka sama cowo yang umurnya beda jauh denganku.
Aku lagi main Android di sofa hijaunya Grandma. Tiba-tiba aku dipanggil Papa dan suruh masuk ke kamar. Kata Papa sih, aku suruh melepas baterai laptop.
Pas aku masuk, aku liat si Louis lagi main laptop. Kata Papa, aku suruh ngelepas baterainya biar daya batrenya awet. Tapi si Louis masih main sama laptopnya.
"Katanya mau lepas batre, tapi kok masih main?" kataku agak judes.
"Oh, iya." Louis langsung mengklik shut down di laptopnya.
Abis di shut down, aku nanya ke dia.
"Laptopnya merk Compact ya, bentar aku cari tombol pelepas batre dulu soalnya beda sama laptopku." kataku masih mencari tombolnya.
"Lho, emangnya laptop kamu apaan?" ia bingung.
"Acer."jawabku singkat.
"Oh, Acer. Kalo Acer mah jelek kalo buat desain bangunan." katanya sok tau.
"Oh, gitu. Kamu masuk jurusan apa? Listrik?" aku malah grogi.
Lho kok tiba-tiba aku grogi sih? Terus jantung deg-degan lagi. Aneh.
"Bukan. Aku masuk otomotif." sambil menggeleng.
Wih, keren juga masuk otomotif. Aku bisa nanya nih ke Louis kalo ada pelajaran mesin yang ga aku ngerti. Padahal aku sekolah ngambil jurusan akuntansi. Yang mesin itu cuma sekadar iseng doang. Akhirnya aku nemu tombol pelepas batrenya, pas aku geser susah banget. Louis bantuin aku buat geser tombolnya. Aduh, kok aku grogi gini sih. Ga lama kemudian, batrenya lepas juga. Tapi aku masih grogi.
"Terus gimana nyalainnya?" bingungnya.
" Ini tuh mainnya listrik. Pake charger. Charger laptopnya mana?" aku mengulurkan tangan.
"Nih." Louis menaruh chargerannya ditanganku.
Aku menancapkannya ke stop kontak dan Louis memasukkan sambungannya ke lubang charger laptop.
"Makasih ya." Louis tersenyum
"Iya." kataku sambil pergi ke sofa tadi dan ngilangin rasa grogiku.
Aku daritadi ngobrol-ngobrol sama Grandpa. Tiba-tiba Louis dateng dan duduk di samping Grandpa. Kayaknya dia pengen kepo soal aku deh. Grandpa nanya soal sekolahku, dari berangkat sampe pulang ditanyain yang macem-macem. Tiba-tiba Louis nanya.
"Emang kamu masuk jurusan apa?" keponya.
"Jurusan akuntansi." jawabku singkat tapi agak grogi lagi.
"Emangnya ga pusing belajar begituan?" Louis cekikikan.
"Pusing sih. Tapi udah biasa kok." jawabku datar.
Tiba-tiba Papa ikutan nanya juga ke Louis.
"Do you have a girlfriend, Ray?"
Wait! Kok Papa manggil Louis jadi Ray sih? Dia kan masih sekolah. Ah, Papa pasti salah orang.
"Not yet. If i have one my mother will angry me." Ia tertawa.
" You already adult Ray, but your mother still manage you." Papa pun tertawa.
Gatau kenapa, pas ditanyain sama Louis aku ngerasa seneng banget. Kayanya aku suka sama dia. Pengen kenal sama kamu lebih deket lagi.
Besok aku ke Holland Village sama Tante Ria, Om Deddy, Jim, sepupuku Reta dan adiknya Aldo sama papanya.
Habis dari Holland Village, badan bener-bener cape banget. Nyampe di rumah Grandma aja jam 9. Aku langsung tepar. Tante Ria nawarin aku biar tidur di rumahnya tapi ga jadi soalnya Kak Ray sama Louis tidur disitu. Coba aja aku tidur disitu. Pasti kenal sama Louis lebih deket lagi.
Besok, kami sekeluarga bakal pulang dari Singapura. Kejadian ini cepet banget berakhir, apalagi sama Louis. Aku berharap aku bisa ketemu sama Louis buat terakhir kalinya. Aku bakal kangen sama kamu Louis.
Keesokan paginya, keluargaku sudah siap untuk pulang tinggal nunggu Papa yang lagi mandi. Mataku masih berharap biar Louis dateng, sekedar aku pamit. Tapi ga muncul juga, yang ada malah Kak Ray.
Papa menyuruhku pamit ke semuanya. Beneran Louis ga dateng. Aku malah pamit ke Kak Ray. Akhirnya, dengan berat hati aku akan meninggalkan tempat ini dan pulang ke Jakarta.